Our Story

Screen Time pada Anak, Apa yang Harus Diperhatikan?


Akhirnya saya mengangkat tema ini di blog, setelah pekan lalu curcol berjubel-jubel di igs tentang kecanduan gadget yang menimpa anak-anak . Antara sedih, gemas, kesal kenapa anak-anak generasi milineal seperti ini. Orangtuanya kemana aja? Ngapain aja? Kami orangtua milenial harus bagaimana?

TRIBUNJABAR.ID – Tak disangka, di Jawa Barat, ternyata sudah ada ratusan anak yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Jawa Barat di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) karena kecanduan gadget. Menurut data RSJ Provinsi Jawa Barat hingga saat ini ada 209 pasien yang kecanduan main smartphone atau HP.Enggak bisa dipungkiri lagi, saat ini gadget seperti smartphhone hingga tablet jadi primadona di masyarakat.”

Ini berita terhangat yang menggaung-gaung memilukan merambah tanah air akhir-akhir ini. Tapi kali ini saya tidak hanya membahas gadget, namun lebih meluas lagi, yaitu screen time pada anak. Kecanduan gadget bisa jadi berawal dari tidak terkontrolnya screen time sejak dini.

“Pada tahun 1970, anak-anak mulai teratur menonton televisi di usia 4 tahun. Berbeda dengan zaman sekarang, Anak-anak generasi masa kini merupakan generasi digital native, yaitu mereka yang sudah mengenal media elektronik dan digital sejak lahir. Bayi usia 4 bulan sudah mulai terpapar oleh televisi di rumahnya. Sama halnya dengan penggunaan gadget termasuk handphone”. Sumberhttp://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/keamanan-menggunakan-internet-bagi-anak

Iya ga bu? Siapa yang senang memperdengarkan lagu-lagu edukatif sama bayinya. Mau ngenalin bahasa Inggris sedini mungkin, lagu-lagu bahasa Inggris sehari-hari terus dipertontonkan. Mau ngenalin warna lewat tv dan belajar berhitung dari tablet misalnya.

Sambil menyusui ibu pegang HP. Si kecil melihat aktivitas ibunya, tak jarang si kecil protes  dan ikut melihat layar HP bersama ibu.

Anak saya ga bisa diam, capek banget ngurusnya jadi suka dikasih kartun aja. Edukatif kok, bagus buat perkembangan anak.

Ini adalah segelintiran obrolan para ibu yang pernah saya dengar. Saya juga pernah jadi pelaku pegang hp sambil menyusui bayi hiks.

Apa itu screen time?

Waktu yang dihabiskan untuk menggunakan layar seperti televisi, komputer, tablet, ponsel, game dll.

“Anak saya ga pernah nonton tv tapi nontonnya di laptop kartun anak Islami, ini aman ga Mba?” pertanyaan dari seorang teman. Iya, medianya tidak hanya tv, pun menonton di laptop konten kartun Islami pun dihitung screen time.

Gimana aturan screen time pada anak?

Pada tahun 2016, American Academy of Pediatrics (AAP) mengeluarkan panduan terkait penggunaan gadget pada anak. Dalam panduan tersebut AAP menekankan pada durasi screen time yang aman bagi anak dan peran orang tua saat anak-anak menggunakan gadget.

Untuk anak di bawah 18 bulan disarankan untuk tidak menggunakan gadget apa pun, kecuali untuk video chatting bersama orangtua atau keluarga. Sedangkan bagi untuk anak berusia 18 hingga 24 bulan disarankan nonton acara edukatif dan berkualitas dengan pendampingan orangtua.

Bagi anak-anak berusia 2-5 tahun sebaiknya tidak menonton televisi atau tablet dan perangkat media digital lainnya selama lebih dari satu jam sehari. Pada usia ini orang tua masih harus mendampingi anak-anak saat menggunakan gadget. Kesempatan ini bisa jadi momen antara orang tua dan anak untuk mendiskusikan apa yang sedang ditonton.

Saya akan share sebuah seminar yang saya ikuti pekan lalu dari seorang pakar psikologi yaitu Bapak Muhammad Hamdi.

Usia 0-3 tahun tidak terpapar layar sama sekali. 
Usia 3-5 tahun 10 menit/hari
Usia 5-7 tahun 20 menit/hari
Usia 7-9 tahun 30 menit/hari
Usia 9-12 tahun 1 jam/hari

Mengapa anak 0-3 tahun tidak boleh terpapar layar karena pergerakan gambar yang ada pada tv sangat cepat sedangkan otak bayi memerlukan jeda waktu yang lebih untuk menangkapnya. Jadi hal ini bisa menyebabkan anak hiperaktif. Juga warna biru pada tv dapat merusak retina. Begitu yang saya ketahui.

Dampak screen time yang berlebihan

Dari hasil segelintiran obrolan saya dengan para ibu yang mengantarkan anaknya ke klinik tumbuh kembang adalah anak-anak hiperaktif, tidak ada kontak mata, speech delay, tidak konsentrasi/fokus dalam belajar hingga autis disebabkan karena terpapar TV/YouTube/tontonan yang berlebihan.

Saya betul-betul kaget, ternyata kasus seperti ini begitu banyak ditemui. Mungkin ini hanya dampak kecil dari efek terpapar screen time yang tidak terkontrol.

Menurut artikel yang dilansir dari BBC.com, membiarkan balita menggunakan gawai tanpa batasan durasi screen time dapat menyebabkan gangguan perkembangan keterampilan, seperti bahasa dan sosiabilitas. Artikel tersebut membahas temuan dari suatu penelitian besar di Kanada, yang memantau hampir 2.500 anak berusia 2 tahun. Mereka mempelajari peran dari paparan screen time terhadap perkembangan anak.

Masih banyak dampak buruk dari screen time berlebihan, diantaranya anak-anak akan kehilangan kesempatan untuk mengeksplore lingkungan seperti berlari, memanjat, bermain tentunya akan menghambat perkembangan. Efek selanjutnya tentu akan berdampak pada kecanduan.

Lantas, Harus Bagaimana?

Saya pribadi bukan ibu yang anti perangkat digital pada anak, karena teknologi dan anak-anak milenial adalah seperangkat yang tidak bisa dipisahkan. Namun mengenalkan screen time kepada anak-anak sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan. Seedukatif apapun tontonan yang disajikan, jika berlebihan tetap akan punya efek buruk.

Saya teringat ketika si sulung berusia 1,5 tahun kami membelikan dvd kartun syamil dodo dan lagu Islami buat Yaqdzan di rumah. Rasanya ini adalah salah satu langkah terbaik untuk mendidik anak versi saya. Suatu hari saya melihat si sulung menolak jika tv dimatikan walaupun tidak ditonton. Sepertinya ini ada yang aneh, gumam saya ketika itu. Di akhir pencarian saya, kami sepakat kalau anak 0-2 tahun tidak terpapar screen time sama sekali.

Tidak bisa hilang 100% memang, setidaknya saya tidak mempertontonkan apapun lagi. Sebab dari intensitas saya memegang hp dari berjualan online saja kala itu, secara tidak langsung anak sudah terpapar. Maka sejak itu juga hingga kini kami sepakat untuk menyimpan TV ke gudang. Loh kenapa? Iya sepertinya kami tidak butuh TV, tanpa TV pun berbagai informasi masih bisa diakses melalui media lain.

Di Belanda pun fasilitas TV dari rumah sewaan tidak kami gunakan. Untuk screen time Yaqdzan usia 4 tahun 1x sepekan yaitu di hari Jumat kami lebih enak menggunakan laptop. Medianya tidak terlalu besar dan mudah mengontrolnya.

Maka, salah satu tips untuk mengurangi screen time pada anak orangtua harus punya komitmen terlebih dahulu. Mungkin ada yang masih suka mengikuti sinetron di channel TV lokal, yang masih senang mengikuti acara gosip selebriti di rumah, yang suka menonton drakor maka intensitasnya sebaiknya dikurangi. Ibu harus bisa mengatur kapan me time bersama layar dan kapan harus menunda.

Kemudian kondisikan lingkungan dimulai dari rumah kita sendiri, jika ketika berkunjung ke rumah nenek masih sering disuguhkan tontonan yang non stop. Setidaknya dalam kondisi ini kita bisa menyeleksi tontonan yang baik, anggap saja bonus bagi anak-anak ketika liburan akhir pekan. Dan jangan lupa sounding kembali anak-anak terhadap aturan yang kita sepakati.

Saya juga banyak belajar dengan para orangtua Belanda, kalau menemani anak bermain ke playground terlihat mereka totalitas. Tidak sibuk foto-foto apalagi alih-alih me time scrol medsos misalnya. Tidak, saya hampir tidak melihat anak-anak memegang hp baik di bus atau pun di pusat perbelanjaan untuk mengalihkan anak yang sedang rewel misalnya.

Dan yang terpenting, hadirkan kegiatan bagi anak-anak sebagai pengganti screen time. Saya percaya, setiap ibu baik yang bekerja maupun di rumah sehari-hari sudah repotnya sudah berlipat-lipat.

Namun, selelah apapun hari sempatkanlah bermain dengan si kecil entah menemaninya bermain puzzle atau membacakan buku. Sesibuk apapun hari, ajaklah si kecil untuk mengeksplore sesuatu walaupun hanya sekedar menemaninya bermain air, melibatkannya dalam pekerjaan rumah sederhana kita. Seletih apapun hari ini, jangan jadikan gadget sebagai media pengganti kita. Karena anak butuh sentuhan ayah dan bunda.

Barakallahu fiik, semoga kita para ayah dan ibu dimudahkan dalam mendidik anak-anak.

Jakarta, Oktober 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *