Cerita Yaqdzan & Faiha

Beberes Rumah atau Bermain dengan Anak Mana yang Prioritas?

Apa kabar mom’s? Semoga pada sehat semua ya. 

Btw saya udah lama ga ngeblog, udah jarang nulis juga, ga punya karya apa-apa hiks. Satu tahun terakhir intensitas ngeblog menurun sekali. Alih-alih saya akhir-akhir ini kehabisan ide, mentok ga tau mau nulis apa, atau jangan-jangan saya yang tidak peka. Menulis pengaruh yang cukup besar memang pada diri sendiri. Wadah untuk numpahin unek-unek, tempat menyalurkan pandangan, dan sejujurnya, saya sebagai seorang perempuan memang perlu menyalurkan ribuan kata per hari. 

Ga ada tema yang spesial buat tulisan kali ini. Ulasan ini hanya mau sharing keseharian ibu rumahan aja. Ada yang bertanya gimana ngatur waktu bermain anak dan beberes rumah? Apakah sehari-hari ada asisten RT? Biar simple go food saja? Atau semuanya musti perfect dikerjakan sendiri. 

Fiuuuh, sebelumnya saya harus tarik nafas dulu karena akhir-akhir ini merasa jenuh dan lelah dengan rutinitas. Kerjaannya nyuci lagi, ngejemur lagi, masak lagi, jemput anak sekolah lagi. Setiap hari cucian piring ada lagi, ada lagi. Lantai juga udah perlu dibersihkan. Ini adalah rutinitas seorang ibu yang setiap hari harus dihadapi. 

Untuk urusan domestik memang tidak ada hentinya, tidak jarang membuat kita stress, kelelahan, dan menjalankannya dengan penuh beban. Iya ga bu? Sesekali boleh loh seorang ibu istirahat. Sesekali boleh loh mendelegasikan pekerjaan rumah kepada orang lain. Karena ibu perlu refresh sejenak, ibu bukan super mom yang harus mampu menghandle semuanya. 

Jadi gimana nih cara mengatur waktu antara menyelesaikan urusan domestik dengan menemani anak bermain? 

Sederhanakan urusan rumah

Saya termasuk tipe ibu yang ga perfect urusan rumah, yang penting tidak terlalu kotor, nyaman untuk ditempati. Sebut saja untuk mengepel rumah hanya 2-3 hari sekali. Memasak yang mudah-mudah saja, hanya 2 menu setiap paginya. Yang penting disukai anak-anak. Dalam seminggu ada waktunya makan di luar atau membeli lauk saja. Cemilan anak-anak ga semuanya dibuat, pilih-pilih makanan sehat yang disediakan di luar. 

Yang paling repot adalah urusan mencuci karena banyaknya aktivitas dalam keluarga, setiap dua hari cucian aka  penuh satu mesin. Nyucinya sih ga perlu effort apa-apa, tetapi menjemur dan melipat bisa menghabiskan waktu 40-60 menit. 

Suatu ketika kami pernah laundry (cuci + strika) tapi tidak bertahan lama karena kurang bersih, pakaian juga ada yang ketukar-tukar. Pernah 6 tahun lalu punya ART namun banyak sekali konflik dan pekerjaan yang tidak beres, jadi menambah beban pikiran. Maka hingga kini ART bukan pilihan kami. 

Ada satu pekerjaan RT yang 3 tahun terakhir kami mudahkan. Betul-betul membuat saya happy, ga ada beban sehari-hari yaitu memudahkan urusan strikaan. Menyetrika baju adalah urusan yang paling tidak saya sukai sejak dulunya. Saya sering begadang buat menyelesaikan ini, pernah juga bangun jam 3 pagi buat nyetrika. Berganti-ganti Art namun pekerjaannya ga ada yang beres. Mendelegasikan ke laundry juga pernah kami lakukan, namun masalahnya selalu ada. Setelah merantau ke Belanda, akhirnya urusan ini selesai juga. Bukan selesai dengan sendirinya tetapi saya harus menurunkan standard hidup. Baju no strika itu tidak apa-apa kok. Kerudung ga strika ga ada mencela.  Iya, kuncinya adalah menurunkan standard kerapihan. Walaupun rata-rata masyarakat Indonesia beranggapan seragam tanpa disetrika itu, ga banget.

Banyak yang tidak percaya atau heran kalau saya pernah 3 tahun tidak menyetrika. Bahkan pakaian si kecil diawal kelahiran hingga kini tidak pernah kena strikaan kecuali yang pernah di laundry. Pakaian suami buat ngampus pun, setelah dicuci langsung dilipat aja. Kerudung segiempat dan gamis saya pun tidak di setrika loh. Kusut? iya tentu saja tidak selicin yang disetrika apalagi setelah di dryer ditumbuk 2 hari kusutnya maksimal banget 😀

Menyiasatinya adalah setelah kering langsung dilipat. Saya akui semenjak Yaqdzan sekolah dan punya seragam sekolah maka rutinitas menyetrika itu kembali ada. Termasuk kemeja kerja suami. Namun urusan menyetrika masih sederhana, satu minggu tidak lebih dari 20 menit. Seragam yang tidak kusut tidak perlu disetrika. Ayo, siapa yang kaya gini juga? 

Dari menyederhanakan urusan rumah ini saya mempunyai waktu lebih mendampingi anak-anak. Biasanya pekerjaan rumahan selesai sebelum jam 9 pagi. Maka setelah ini saya bisa mengalokasikan waktu buat anak. Terutama Faiha yang masih di rumah. 

Aktivitas bermain bersama anak ga akan lama kok. Kalau anaknya sudah sekolah, waktunya sempit sekali. Begitu yang saya alami ketika Yaqdzan sekarang sudah sekolah. Dulu ketika Yaqdzan berusia 2,5 tahun saya baru memulai merutinkan aktivitas bermain bersama anak. Belajar bersama ibu-ibu di Instagram, buka-buka web ibu-ibu bule. Hingga akhirnya komunitas ide bermain anak banyak ditemukan dimana-mana. 

Usia si sulung 2,5 tahun- 4 tahun saya bisa full membersamainya di rumah. Begitu pindah ke Eindhoven Yaqdzan wajib sekolah, kami tidak punya waktu banyak untuk bersama. Maka ketika pulang ke Indonesia sempat homeschooling 1 tahun saya betul-betul merasakan bisa membersamai anak kembali. Visi misi keluarga yang sempat tertunda lebih luwes untuk dipraktekkan. 

Kini pun sang adik hampir berusia 3 tahun, kerepotan saya di rumah tidak akan lama. Waktu bersama anak tidak akan selamanya. Sedangkan kesibukan domestik rumah tangga tidak ada habisnya maka dalam waktu sesingkat-singkatnya mari luangkan waktu untuk membersamainya. 

Membuat planning pembelajaran 

Anyway ini kok kayanya formal banget, tapi ga saklek kok. Bagi saya membuat rencana pembelajaran anak cukup membantu dan memudahkan kita. Apalagi bagi pemula, bingung mau main apa? Bingung mau bikin apa? Nah tips ini cukup sukses membantu saya. Referensinya ga jauh-jauh dari scroll instagram, buka website atau download worksheet. Biasanya saya membuat planning kegiatan anak untuk 1 pekan secara variatif. Walaupun nanti aktualnya melihat ketertarikan anak. Cara ini juga membantu kita untuk mengevaluasi kegiatan mingguan/bulanan anak. 

Misalnya saja kami sedang membuat kurikulum sederhana untuk media belajar bahasa Inggris Yaqdzan. Awalnya acak dari buku/flashcard atau permainan. Lama-lama bingung sepertinya kami ga punya parameter tertentu. Jadi dengan adanya tema, saya lebih ada persiapan di akhir pekan untuk mempersiapkan peralatan belajar anak-anak. Misalnya saja harus memprint worksheet, membuat kartu DIY, atau memilah buku-buku yang akan dipelajari. Tentunya akan memudahkan disaat evaluasi. 

Buat anak yang sudah sekolah kapan waktu membersamainya? 

Saya usahakan pagi hari adalah waktunya adik yang full di rumah. Bermainnya juga simple loh, kadang membaca buku, bermain puzzle, sesekali saya membuat sesuatu. Agar anak belajar dari benda sederhana bisa tercipta karya yang berarti. Main itu tidak perlu mahal, harus membeli aparatus yang tidak sedikit harganya. Amati, tiru, modifikasi dengan barang-barang yang ada di rumah. 

Kami pun dikasih rezeki mainan dan buku seperti sekarang tidak instan. Menabung sejak lama dan manfaatkan barang bekas yang ada. 

Bagi sang kakak yang sudah sekolah, sore hari jika tidak ada jadwal mengaji di luar saya sempatkan untuk mengajaknya bermain bersama. Entah bermain lego, membuat mainan kardus dll. Goal utamanya bukan mencapai kemampuan akademis/ keahlian. Tidak, jauh dari itu. Agar bunda dan Yaqdzan punya bonding bersama, ini yang utama.

Sedangkan setelah magrib biasanya full jadwal anak-anak, tilawah, murajaah, menghafal Alquran 1 ayat. Dilanjutkan dengan sesi membaca buku yang dibacain ayah/bunda. English time 10-15 menit saja. Atau kalau ada ujian biasanya kami mengulang pelajaran bersama. 

Oh iya aktivitas harian ini juga perlu kerjasama dan dukungan suami. Walaupun suami sibuk di luar, alokasikanlah waktu untuk berdiskusi bersama. Karena sejatinya suami adalah kepala sekolah dan istri guru mata pelajaran. Ada kalanya jenuh, bosan , dan lelah menghampiri. Maka saling mensupport adalah kunci. 

Jakarta, 26 Nov 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *