Travelling

MRT Jakarta Vs Metro Paris

Halo 2020, tekad saya di tahun ini rajin ngeblog, parameternya 1x seminggu aja. Ikutan proyek buku-buku antologi yang temanya saya sukai. Terakhir naskah solo saya segera terbit. Aamiiin, mohon didoakan ya teman-teman 😆 Bikin tekad dulu karena udah lama banget ga ngeblog 😂

Jadi liburan kemaren kami ceritanya ngajakin anak-anak 1 hari bersama public transport. Mulai dari naik angkot sampai menikmati kemewahan MRT Jakarta. Disaat euforia MRT (Maret 2019) telah usai, kami baru sekarang merasakan sensasinya.

Rencananya kita mau naik MRT dengan rute Lebak bulus- Bundaran HI- Lebak Bulus. Lebak Bulus adalah stasiun MRT terdekat dari rumah. Padahal Lebak Bulus itu jauh banget dari rumah, jadi kita menuju lokasi naik transjakarta.

Naik transjakarta alias busway dari Pinang Ranti, halte pertama bus beroperasi. Harapannya bus nya masih sepi jadi ga rebutan nyari tempat duduk. Baru saja menapaki jalan menuju halte pengunjung tumpah ruah, maklum saja masih suasana liburan sekolah mungkin banyak orang yang punya niat serupa seperti kami.

Akhirnya bus yang kami tumpangi datang juga. Penumpang tidak begitu banyak jadi sebagian kursi masih kosong. Ibu berbalita, ibu hamil dan lansia tentu saja dapat kursi prioritas.

Satu jam perjalanan terlewati, tampaknya halte yang dituju masih jauh. Oh iya untuk menuju Lebak Bulus, kami harus transit dulu di Grogol karena ga ada busway yang direct. Karena semakin jauh, jadinya melanjutkan perjalanan menuju bundaran HI saja.

Bagi saya yang emak rumahan, perjalanannya hanya dari pintu ke pintu naik ojol dalam kecamatan, ikut bertengger di transjakarta adalah keistimewaan. Bertemu dengan banyak orang, berbagai rupawan seru juga. Apalagi si sulung naik transjakarta mengingatkan pada bus-bus di Eropa, yang pintunya nutup sendiri katanya 😅

Alhamdulillah transjakarta ga kalah pamor, ga kalah nyaman kalau naiknya bukan di saat rush hour. Kebersihannya pun hingga kini masih terjaga.

Sejenak turun dari transjakarta kami mencari bangku untuk mengisi perut dengan perbekalan yang ada. Minuman dingin yang begitu menggoda sepanjang transjakarta kini akhirnya bisa disantap.

Perlahan kami pun menapaki anak tangga menuju stasiun MRT. Woow, keren juga. “Ini di bandara?” ceplos si sulung tiba-tiba. Stasiun ramai sekali, kami pun segera menuju loket pembelian tiket.

Stasiun MRT bundaran HI

Memang stasiun MRT sangat bersih, rapih dan teratur. Saya harus akui kalau ini adalah sebuah kemewahan di tanah air. Biasanya kondisi seperti ini hanya didapati di bandara. Wajar saja kalau Yaqdzan mengira demikian.

Di beberapa spot juga disediakan bangku walaupun tidak banyak, tidak sebanding dengan jumlah pengunjung. Di sepanjang stasiun kita dilarang untuk jongkok apalagi duduk. Saya pun sempat ditegur petugas saat jongkok bernegosiasi dengan Faiha karena sesuatu yang diinginkannya. Namun petugas menegur dengan cara sopan.

Selain adanya larangan duduk di lantai, makan dan minum pun tidak diperkenankan di sepanjang stasiun, apalagi di dalam MRT. Tipsnya, bagi teman-teman yang akan naik MRT terlebih yang membawa anak-anak lebih baik makan dulu.

Saya dan anak-anak juga sempat kelaparan karena jam 11 siang naik transjakarta sekitar 2 jam kemudian kami masuk ke stasiun MRT. Hanya sempat mengganjal perut sedikit di halte transjakarta dan belum sempat makan siang.

Di stasiun MRT juga disediakan musalla, toilet dan nursing room. Musallanya cukup kecil dan terpisah dengan toilet. Alhamdulillah nyaman banget.

Nursing room

Oh iya tiket MRT kita beli untuk 1x trip aja, bundaran HI- Lebak Bulus 14ribu/orang. Belinya antri di loket pembelian tiket. Nanti dapat kartu buat check in/out di mesin, di penghujung stasiun kartunya dikembaliin lagi. Selain itu ada juga sales-sales yang nawarin tiket paketan gitu.

Tiket Mrt
Tarif tiket MRT dari stasiun ke stasiun

Jreeng..jreeng akhirnya MRT pun datang dan kami segera bergegas masuk. Sangat penasaran bagaimana sensasinya. Jalur awalnya masih di bawah terowongan jeda beberapa menit berhenti di stasiun berikutnya. Menurut saya jarak antar stasiun terlalu dekat, mungkin lintasan MRT nya hanya 16km. Sekitar 30 menit kemudian kami sampai di stasiun terakhir, Lebak Bulus.

Oh iya bagi teman-teman yang membawa stroller untuk akses menuju MRT juga disediakan lift.

“Jauuuh deh sama metro Paris”, akhirnya saya nyeplos demikian.

Loh kenapa? Iya MRT Jakarta jauh lebih nyaman daripada metro Paris. Paris kota seribu cahaya mungkin impian banyak orang. Namun berkunjung ke kota Paris banyak meninggalkan kenangan pahit bagi sebagian orang. Terutama metronya, bagaimana tidak, stasiun bawah tanah Paris tidak stroller friendly. Entah berapa kali kami menggotong stroller, menggendong bayi, menggandeng balita dan mengangkat koper saat check in/out. Begitu juga entah berapa banyak anak tangga yang dilewati dengan menggotong barang-barang.

Stasiun Metro Paris, satu-satunya foto pribadi saking was-wasnya selama perjalanan 😀

Stasiun metro Paris pun tidak bersih, di mana-mana bau pesing dan banyak sekali homeless. Angka kejadian copet di kota ini juga sangat tinggi, para copet memang mencari mangsa di sepanjang stasiun atau di dalam metro. Mereka bergerombolan, saling bekerja sama. Ada yang pura-pura membantu atau memberi bunga.

Mungkin dulunya metro Paris terjaga dan bersih namun dengan banyaknya imigran kejadian kriminal bertambah, kenyamananpun sudah tidak ada.

Kini MRT Jakarta bersih, aman, dan nyaman. Harapannya 3 point ini terus terjaga. Yuk rame-rame naik MRT, yuk bareng-bareng jaga fasilitas negara 💕

Jakarta, Januari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *