Our Story

Hijrah Hutang & Riba, KPR Rumah Masih Berani?

Siang itu langit Jakarta terang benderang. Di ruangan yang cukup luas terlihat seorang guru yang mengurai kalimat Alquran satu persatu. Saya sambil mencerna dan meraba ilmu, mengipaskan selembar kertas pada si kecil yang tampak kegerahan. Hingga azan zuhur hampir berkumandang dan pembelajaran di kelas pun berakhir. Sejenak saya membuka pesan singkat dari suami kalau urusan yang kami tunggu-tunggu tuntas sudah. Seketika hati saya bergemuruh dan melepas isak tangis kesyukuran.

Btw saya mau cerita bagaimana perjalanan hijrah kami lepas dari hutang dan riba. Semoga jadi inspirasi buat teman-teman semua, mungkin ada yang sudah berniat lepas dari hutang dan riba tapi jalannya masih pesimis. Atau yang sedang berjuang mengakhiri ini semua, hingga tidak ada lagi harta yang tersisa. Bahkan barangkali diantara kita ada yang belum faham, emang riba itu apa ya? Yaah kalau ga ngehutang kapan kebelinya property dan kendaraan. Semua prediksi diatas juga mewakili logika saya hingga akhirnya kami salah jalan.

Ketika hanya logika manusia berkata, memang semuanya serba niscaya. Ketika hanya kalkulasi manusia yang ada , memang segalanya serba mustahil. Ketika perkara rezeki saja kita ragu pada Sang Maha, lalu dimana letak iman kita? Dialog ini mengawali kami untuk memutuskan KPR rumah 6 tahun lalu. Sebagai keluarga baru dan penghasilan yang “cukup”, memiliki rumah adalah sebuah euforia besar bagi saya ketika itu. Lagi pula rumah di Jakarta setiap tahun harganya naik gila-gilaan. Mana mungkin kami bisa membeli rumah cash, jadi jalan satu-satunya adalah KPR. Karena ada sesuatu dan lain halnya, saya emang bersikeras ingin KPR meskipun suami sebetulnya kurang sreg.

Hingga akad kredit rumah pun berjalan. Dengan segala keterbatasan ilmu saat itu dan perkara hutang riba belum seluwes hari ini maka kami pun memilih bank konvensional. Kenapa? karena bank syariah “bunganya” lebih besar, ibarat reintenir yang menarik keuntungan berlipat-lipat. Lagian bank syariah juga belum murni syariah jadi bank konvensional lebih menguntungkan. Begitu pemahaman saya ketika itu.

Dua tahun berjalan, saya diberi hidayah untuk memahami perkara KPR rumah, apa bedanya bank konvensional dan syariah. Hingga mencapai pada titik terang kalau, perbedaan keduanya terletak pada akad. Bank konvensional bersifat bunga sedangkan bank syariah bersifat bagi hasil. Hingga akhirnya, suami mengajak saya untuk mengakhiri hutang dan riba. Meskipun ketika itu saya setuju tapi pesimis karena jalannya belum ada. Lagi lagi saya pesimis karena logikanya memang kami tidak akan mampu melunasinya. Tapi bukan soal harta yang tidak saya punya, tapi barangkali sering terlupa kalau ada Allah Sang Maha Kaya yang menyelesaikan semua. Kalau Allah berkehendak, seketika kunfayakun . Hingga akhirnya saya kehilangan hidayah itu, dikasih tapi ga bisa nangkep.

Ketika pulang ke tanah air pinta saya hanya satu, tidak putus untuk belajar Alquran, dipertemukan dengan orang-orang yang duduk mengkaji Alquran. Hingga hidayah itu pun datang melalui guru Alquran saya. Entah kenapa kami bisa membahas perkara rumah hingga saya pun sempat membuka pembicaraan kalau kami berhutang. Qadarullah, emang sudah jalannya. Bagaimana bisa, disaat kami punya niat lepas dari hutang seketika Allah kasih petunjuk hingga saya (terutama) bertekad kuat. Ayok..ayok kita pasti bisa.

Saya juga terinspirasi sekali dan banyak mengambil hikmah dari pengalaman beliau (guru Alquran sekaligus sahabat akhirat insya Allah), kalau beliau dulu pernah KPR rumah baik dengan bank konvensional maupun syariah. Ketika tau bank syariah yang dipakai ada unsur ribanya, beliau bersegera untuk melepas semuanya. Jangan bayangkan lagi berapa harta yang tersisa, tapi semoga ini dinilai sebagai jihad harta begitu tutur beliau.

“Mba fiza jangan takut kehilangan harta, lepasin semuanya. Ini jihad kita mba. Aku yakin disaat kalian udah lepas, Allah akan kucurkan rezeki yang makin berlimpah dan berkah. Percayalah, aku udah ngalamin” nasehat sang teman. Seketika air mata saya tidak bisa dibendung. Ya semua investasi kami direncanakan akan dijual, tabungan saya habis, kami baru saja sedang mengumpulkan dana darurat rumah tangga tapi semuanya habis tak tersisa, Bismillah karena riba jauh lebih darurat daripada uang darurat.

Ya Rabb, yang penting Engkau ridho. Ya Rabb buat apa harta dikumpulkan kalau semuanya mendatangkan maksiat. Ya Rabb tolong..tolong..tolong kami. Kegalauan saya satu bulan terakhir, antara yakin, sedih kehilangan, tapi bahagia dan harus dikuatkan terus. Allah terus kuatkan saya, dibukakan jalannya, semakin banyak dipertemukan dengan orang-orang yang anti hutang riba. Mungkin ini hidayah Allah bagi saya.

Sebetulnya kami juga ikhtiyar untuk menjual rumah ini agar urusan hutang segera selesai. Namun menjual rumah tidak semudah menjual cireng 😆. Tawaran pun belum datang darimana pun. Jalan satu-satunya adalah percepatan pelunasan. Kami juga sempat kalkulasi yang dulunya pesimis ga bisa beli rumah cash, rupanya dari tabungan 6 tahun terakhir kalau tidak berhutang kami dimampukan untuk membeli cash. Kalkulasi manusia saja bisa, apalagi yang mustahil bagi Allah pun mudah sekali. Kini saya yakin banget.

Bulan lalu kami langsung datang ke bank, niatnya ingin langsung bayar percepatan seadanya. Namun jatuh tempo pembayaran tepat di hari sabtu dan kami harus menunggu bulan depan. Dalam masa penantian ini saya hanya meminta agar kami dimudahkan proses semuanya. Dipanjangkan usia, diampuni segala dosa. Semoga hari-hari kami kedepannya semakin berkah. Diberi ketenangan hati yang tidak bisa dibeli dengan uang. Allahuakbar..allahuakbar kemaren kami bebas hutang dan riba, semuanya Allah yang membayar tunai.

Saya pun teringat dengan orangtua, mama saya seorang guru PNS juga memiliki hutang di bank. Semuanya memang buat sekolah anak-anaknya. Saya pun akhir-akhir ini gelisah, memikirkan nasib mama. Seandainya kelak di akhirat saya memasuki pintu surgaNya, bagaimana dengan nasib mama saya? Walaupun surga saya belum jelas. Saya minta sama Allah, Ya rabb jangan pisahkan kami, selamatkan orangtua saya, beri kemudahan baginya.

Perkara hutang riba memang jadi perbincangan saya dan mama akhir-akhir ini. Alhamdulillah saya punya jalan untuk melunasinya. Sedangkan mama tidak mampu. Saya terus meminta sama Allah agar ditunjukkan jalan. Hingga akhirnya saya menelpon adik yang di Jepang, memberi kabar kalau kami ingin lepas hutang. Pembicaraan pun dibuka, dengan menceritakan bagaimana kondisi mama saat ini dan bagaimana mengerikannya dosa riba.

Obrolan pun semakin hangat hingga disatu puncak dan tangis saya pecah membayangkan bagaimana nasib mama. Dan seketika adik berkata “aku yang akan lunasi hutang mama semuanya”. Allahuakbar 😭😭😭

Tanpa berpikir sejenakpun adik saya akan membebaskan hutang mama. Maka isak tangis kami sore itu adalah sebuah kebahagiaan. Ya Rabb, jika di akhirat kelak saya bisa bersaksi, saya akan bersaksi kalau beliau adalah orang yang dermawan dan memberi tanpa nanti. Sayangilah dia, perbaikilah kehidupannya, sapalah dengan hidayah-hidayahMu 😭 Barakallahufiik, Om telah menyelematkan mama.

Dari sini saya mengambil hikmah jangan pesimis untuk bercita-cita, kalau cita bukan hanya sekedar mimpi karena kita punya Allah. Jangan pesimis meminta, barangkali memang pinta dan doa kita yang belum bersungguh-sungguh. Apapun masalah kita, Allah adalah pengurai dan pemberi solusi. Allah senang sekali bagi hambaNya yang meraung-meraung meminta siang dan malam.

Siapa sangka doa yang selalu hadir pada mama saya adalah agar dikasih jalan untuk bebas dari hutang dan mama ingin berhaji. Hutang yang begitu mustahil bisa terbayar, hari ini Allah kabulkan semuanya. Bahkan dalam waktu 4 hari dari niat bebas hutang, doa itu terkabul. Bahkan lebih cepat dibandingkan kami yang punya niat lebih dahulu.

Saya semakin yakin, sesulit apapun kondisi kita hari ini ada Allah yang membantu. Ada yang ingin punya rumah, mobil, umrah, berhaji tapi belum ada dananya, mintalah sama Allah. Yakinlah kalau itu semua Allah akan bukakan jalannya meskipun hari ini mustahil adanya. Ga ada salahnya kok ingin punya rumah, kendaraan dll karena Allah juga tidak melarang bagi hambaNya yang ingin punya tempat tinggal nyaman. Maka bersabarlah dalam menanti, kuatkan tawakal dan ikhtiyar. Tempuhlah jalan yang Allah mau.

Hari ini saya berazzam apapun kondisinya kami tidak akan berhutang lagi. Bank konvensional jelas big no! Bank syariah pun tidak. Ataupun tawaran kreditan syariah lainnya. Semoga kami dijauhkan.

Hidup semampunya saja. Kalau tetangga kita punya mobil mewah dan rumahnya luas. Bersyukurlah sehari-hari masih bisa naik angkot. Kalau teman instagram kita jalan-jalan ke LN, ga usah baper. Bersyukurlah banyak saudara kita yang wisata hidupnya dihadapkan dengan banjir bahkan peperangan .

Mari cek dan ricek kembali, terus membaca Alquran, shalat sunnah tidak tertinggal tapi barangkali ada maksiat besar yang kita lakukan dianggap biasa, yaitu riba. Bermaksiat dalam taat. Nauzubillahiminzalik. Semoga Allah mengampuni kesalahan besar ini. Allahumma Ajirna minannar.

Buat yang sedang berikhtiyar ingin tempat tinggal yang nyaman, kendaraan yang nyaman semoga dimudahkan. Buat yang terlilit hutang semoga Allah kasih jalan. Pesan saya apapun kondisinya jangan pernah berhutang.

Barakallahufiik, selamat meraih ridho Allah teman-teman semua.

Jakarta, 12 Maret 2020

*Terimakasih mba Dini yang udah support, kuatkan dan tuntun kami satu bulan terakhir. Kita bukan siapa2, tapi Allah pertemukan dengan indah seperti ini. Dulu saya kehilangan teman2 di NL, sekarang Allah gantikan dengan kehadiran, mba. Uhibbukifillah 💕

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *