Our Story

Mendadak jadi Guru di Rumah karena Covid-19

Halo emak seantero bumi. Apa kabar semuanya? Semoga kondisi rumah kita hari ini, diliputi keberkahan karena banyak kebaikan di dalamnya. Semoga semangat kita hari ini tidak hanya untuk diri tapi juga memikirkan tetangga dan para pedagang kecil yang hidupnya serba kekurangan. Semoga kenyangnya kita hari ini tidak melampaui karena banyak saudara kita yang mulai kelaparan.

Pekan ke-4 karantina karena kondisi pandemi sekarang, juga pekan ke-4 anak-anak tidak sekolah formal. Rasanya tidak percaya semua ini bisa terlewati dengan asam asinnya. Bagaimana bisa, saya orang yang ga betah di rumah, ketika anak berangkat sekolah selalu mencari kegiatan di luar yang selalu menjadi energi kebaikan tersendiri, tapi hari ini harus diam di rumah. Kalau bukan karena Allah yang memberi kesabaran dan hati yang lebih lapang saya tidak akan bisa menikmati semuanya.

Saya ibu yang selalu menantikan libur sekolah Yaqdzan, harapannya punya waktu lebih untuk berkumpul bersama. Bisa banyak melakukan berbagai hal di rumah, yang ga pernah didapat di sekolah. Atau entah masak-masak bareng atau sekedar menikmati makan siang atau rebahan bersama. Begitu berharganya momen ini.

Maka ketika ada keputusan pemerintah agar sekolah diberhentikan sementara. Hal ini suatu kebahagiaan bagi saya, meskipun pada prosesnya tidak mudah. Dan yang menambah bahagia lagi adalah pak suami juga bekerja dari rumah. Setidaknya anak-anak tidak menunggu kepulangan ayahnya lagi setiap sore. Setidaknya pagi-pagi bisa tek tok beberes rumah, lalu ayahnya kembali bekerja sesuai jam kerja biasa. Sedangkan saya melanjutkan beberes dan mengajar anak-anak. Setidaknya kalau Faiha mau pup maunya sama ayah, bunda bebas tugas hahaha.

Tidak ada sebuah kesyukuran selain kondisi kesehatan hari ini, dibalik padatnya RS dengan pasien covid-19 dan bergugurannya pahlawan medis karena berjuang di garda terdepan. Sedangkan kita sehat lahir batin walaupun hanya di rumah saja. Tidak ada sebuah kesyukuran kalau di rumah masih bisa makan enak, stok kulkas penuh bisa masak bermacam makanan. Sementara di luar sana banyak yang kehilangan pekerjaan, bahkan mulai kelaparan. Ya rabb 🙁

Maka kerepotan saya di rumah tidak ada apa-apanya, semuanya hanya anugerah dan kenikmatan. Anw saya mau sharing sedikit bagaimana keseharian kegiatan anak-anak selama di rumah. Pada akhirnya kita semua merasakan homeschooling, tidak hanya sekelas nusantara tetapi seantero bumi. Melihat semangat para ibu selalu jadi energi positif bagi saya. . Ada yang membuat printable, berbagi informasi printable gratis, berbagi ide kegiatan harian anak-anak. Saling menginspirasi dan menguatkan. Barakallahufiik ibu-ibu semua ❤️

Kegiatan anak-anak tetangga tidak lebih baik daripada anak-anak kita. Unggah foto medsos teman Instagram yang begitu ciamik dan teratur tidak lebih baik dari foto dari hp jadul kita. Maka apa-apa yang semu terlihat jangan pernah jadi perbandingan, bikin baper, ataupun iri dan dengki. Nauzubillah. Semuanya jadikanlah penyemangat dan inspirasi. Kalau setiap keluarga punya seninya masing-masing.

Kegiatan Yaqdzan di rumah ga beda jauh dari hari biasanya disaat sekolah. Setiap hari ada penugasan dari sekolah, kelas zoom dengan bu guru atau belajar via YouTube. Gimana anaknya enjoy ga? Tergantung porsi tugas dari sekolah. Pekan pertama saya cukup kelelahan menemani Yaqdzan karena tarik ulur dengan main di rumah sama PR sekolah, yang mana porsinya cukup banyak dan akademik semua.

Mungkin saya ortu level 1, satu-satunya yang terus “protes” dan menyalurkan aspirasi pada komite sekolah agar penugasan lebih ringan dan kreatif lagi. Tidak melulu akademik, iya kan? Mungkin level satu lebih banyak fokus pada life skill, adab, dan kreatifitas. Alhamdulillah sedikit ada perubahan.

Kegiatan harian ada beberapa hal, saya membaginya menjadi beberapa point berdasarkan kesenangan Yaqdzan dan kesepakatan bersama. Diantaranya, sesi standart pagi (dari bangun, bersihkan diri, bantu lingkungan, dan olahraga), sesi Alquran, sesi tugas sekolah, sesi home projects dan sesi book time malamnya.

Waktunya kapan? fleksibel saja. Berikut jadwal yang saya rekam sebagai contoh keseharian Yaqdzan. Polanya selang seling, tugas-free play, tugas-free play begitu saya menyimpulkan.

Jadwal fleksibel yang mencakupi point-point ini

Malah di rumah lebih banyak mainnya dibandingkan jam sekolah. Untuk sesi Alquran saya ibu yang paling bersyukur bisa membersamai Yaqdzan full di rumah menambah hafalannya, murajaah bareng dan tilawah yang waktunya lebih luwes. Progresnya memang lebih cepat dibandingkan sekolah, tapi goalnya bukan seberapa jumlah hafalan. Tetapi saya ingin mengambil peran merebut #amaljariyahterdekat dan mengantarkannya untuk mencintai Alquran. Terkadang saya memang menambah tenaga ekstra untuk menyajikan sebuah game untuk menambah kegembiraannya bersama Alquran. Terkadang saya harus mencari ide, mengumpulkan semua anggota keluarga, yuk meriahkan halaqah Quran rumahan kita. Terkadang kami juga saling “ledek-ledekan” disaat sambung ayat ada yang tidak bisa melanjutkan. Eh..eh surat Ad Duha aja bunda bisa ketukar. Terkadang ayah dipenghujung surat A nyambungnya ke ayat lain. Disini seru dan asiknya.

Hikmahnya, dulu Yaqdzan yang banyak dibersamai bunda sekarang bada magrib ayah sudah siap mengajar dan belajar bersama. Nikmat yang jarang ditemui sebelumnya.

Selanjutnya, home projects tampaknya saat-saat yang dinantikan Yaqdzan setiap harinya. Anaknya semacam udah terpola dan auto nagih sama bunda “hari ini mau bikin apa ya?”. Walaupun yang saya sajikan itu perkalian matematika, mengerjakan printable soal-soal, eksperimen, ngoprek kardus, main lego, lipat origami, main stik es krim, dll. Tapi buat pemuda ini adalah sebuah permainan. Jadi sekali lagi, bukan saya yang terlalu kerajinan atau saklek harus ngadain kegiatan tapi anaknya suka nagih 😅

PR besar saya setiap hari harus nyari nyotekan ide bermain dan meluangkan tenaga untuk memfasilitasinya. Maka bagi saya disaat request seperti ini adalah momen terbaik untuk menyampaikan banyak hal dengan anak.

Kegiatan harian lainnya adalah free play, ada kalanya Yaqdzan dan adiknya heboh lari-larian di rumah mungil ini. Sibuk naik turun tangga angkutin cemilan. Atau pagi-pagi udah request mau bikin makanan ini itu. Tak jarang saya menyuruh mereka tidur siang, tapi tidur siangnya Yaqdzan adalah selonjoran di kasur baca buku. Oh iya hiburan termewah Yaqdzan juga adalah screen time, 2x sepekan dengan durasi 1 jam. Juga bermain game weekend dengan durasi 30 menit/sesi.

Bagi saya, hiruk pikuk dalam rumah adalah tantangan dan kenikmatan tersendiri. Ada kalanya saya juga jenuh dengan rutinitas tapi tidak bisa keluar rumah. Maka harus pandai-pandai mencari kebahagiaan diri. Yang terpenting harus meluruskan niat, apa yang kita lakukan muaranya hanya Allah.

Apapun kegiatan kita di dalam rumah, semoga dalam rangka taat bersama-sama, saling membantu antar anggota keluarga dan meningkatkan bonding anak dan ortu.

Semoga kita bisa ikhlas dan berlapang dada menjalani kondisi wabah ini. Dicukupkan atas segala kebutuhan, dimudahkan atas segala urusan. Mari hidup berhemat, dan banyak sedekah.

Barakallahufiik semua 💕

Jakarta, April 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *