Serba serbi menulis

Liku-Liku Terbitnya Buku Solo: Groetjes Uit Eindhoven

Hai semua! Kali ini saya akan sharing bagaimana perjalanan dunia menulis saya hingga ke titik sekarang yaitu terbitnya buku solo. Semoga jadi inspirasi juga bagi teman-teman yang ingin menerbitkan buku.

Saya anak ingusan yang baru saja memulai dunia kepenulisan tahun 2016, baru saja membuat blog sebagai plafon menulis dan bercita-cita ingin menulis buku. Tentu saja perjalanannya masih panjang dan entah kapan cita-cita ini tercapai.

Titik awal saya ingin menulis karena akan hijrah ke Belanda tahun 2016. Ya, semacam kegiatan hiburan yang mengisi hari-hari saya selama dirantau begitu harapannya. Saat itu juga saya pernah mengikuti kelas menulis, namanya Jari
Peniti. Rasanya bergetar, tulisan amburadul ini perdana dibaca orang lain terlebih oleh seorang coach.

Saat itu menulis blog memang jadi kesenangan dan kebutuhan. Disela-sela peran menjadi ibu, mendampingi suami yang sekolah dan banyak hal baru yang jadi inspirasi.

Beruntungnya saya, blog ala kadarnya ini selalu ada pembaca setia yaitu suami 😆. Doi ga pernah henti kasih saran dan masukan mulai dari titik koma yang amburadul sampai kutipan tulisan “ngakak guling-guling, tepok jidat” yang menurutnya ga lucu sama sekali hahaha

Perlahan tulisan saya lebih baik dan lebih enak dibaca. Hingga selama 2-3 tahun saya merutinkan untuk ngeblog one week one blog. Ya terkadang ada bolongnya juga sih. Usaha yang tidak banyak tapi konsisten cukup membantu dan menjaga ritme semangat ketika itu.

Menulis buku masih menjadi cita-cita besar. Entah kapan waktunya, biarlah proses dan progres yang menjawabnya. Yang penting saya konsisten ngeblog, begitu yang saya bayangkan ketika itu.

Hingga akhirnya akhir 2018 kepulangan kami ke tanah air menjadi jalan lebih nyata untuk berkiprah di bidang kepenulisan. Saya banyak mengikuti kelas menulis offline. Yang dicari memang bukan tips menulis yang baik dan professional tetapi saya bertemu dengan teman-teman yang punya mimpi yang sama yaitu melahirkan buku.

Saya mendapat inspirasi dari teman-teman komunitas bagaimana perjalanan dan perjuangannya hingga karyanya terbit, pun bagi mereka yang sedang mati gaya dengan naskahnya. Sungguh menjadi energi besar saya ketika itu.

Selain itu saya juga ikut menchallenge diri mengikuti kelas menulis online diantaranya komunitas blogger @1minggu1cerita, @30haribercerita setiap awal tahun di Instagram, @30dwc menulis tanpa henti selama 30 hari dan akan dapat krisan dari peserta dan mentor. Oh iya program @30dwc juga ada proyek menulis buku antologi. Bermula dari @30dwc semangat saya makin berkobar karena cita-cita itu semakin dekat. Hingga tak disangka dari program @30dwc lahirlah buku antologi perdana. Buku keroyokan rame-rame mungkin tulisan saya hanya nyempil 2-4 halaman, tapi rasanya sangat bahagia hingga sampai ke titik ini.

Memori tanah rantau pun sangat dekat dan lekat, hingga akhirnya perjalanan kami 2 tahun selama di Belanda jadi inspirasi saya untuk mengurainya dalam sebuah buku.

Penggarapan naskah solo pun tidak instan, saya banyak berdiskusi dengan suami tentang konsep yang akan diangkat. Dimulai dari menuangkan ide-ide, kerangka naskah dan menyiapkan tenaga serta semangat kalau saya serius akan memulainya.

Rampungnya naskah ini juga tak luput dari bimbingan mentor saya. Ya, mentor menulis. Saya memilih mentor menulis karena terinspirasi dari mba Monik dan mba yosay yang pernah mengikuti mentoring menulis dalam proses buku solo mereka. Candidat mentor ada beberapa pilihan diantaranya Brili Agung dan Rezky Firmasyah. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya memilih Rezky Firmansyah, kenapa? Ga kenapa-kenapa. Karena sejak awal, saya memang sering mengikuti kelas offlinenya. Keluarga kami juga sudah cukup dekat dengan beliau. Kiprah beliau dalam kepenulisan juga tidak diragukan lagi. Beliau tidak terlalu sibuk, harapannya lebih konsen membimbing naskah saya.

Mentoring naskah dimulai, saya harus on fire. Tentunya ga mau sia-sia apalagi patah semangat di tengah jalan. Ada beberapa syarat mentoring yang diajukan diantaranya bisa komitmen menulis 3 halaman A4/hari, disiplin dan anti baper.

Jadi mentor perannya ngapain aja?

Peran utama mentor adalah untuk menjaga semangat dalam menyelesaikan naskah. Beberapa teori secara konsep akan diperoleh, tapi peran mentor bukan mengedit naskah apalagi menyelesaikan naskah saya. Big no! Ya, selama 40 hari saya harus siap mental, menunggu kritik dan saran dari sang mentor. Terkadang berjalan mulus, bisa jadi suntikan semangat ke tahap berikutnya. Tidak jarang saya mendapat komentar sambal gledek. Padahal saya tau Mas Rezky adalah sosok yang baik hati dan tidak sombong, tapi entah kenapa sejak jadi mentor bagaikan monster yang menakutkan haha. Tapi kritikan beliau selalu saya nantikan. So far, beliau cukup professional membimbing saya.

“Awalan yang baik, keep writing” begitu closing statement kritikan hari itu, sungguh membuat saya bahagia. Tetapi dalam perjalanannya saya selalu ditanya 5W1H. Betul-betul tulisan yang saya setor harus punya pondasi dan alasan.

Waktu menulis

Hari-hari saya memang tidak terlewat tanpa menulis. Menulis naskah biasanya pagi hari hingga waktu dhuha, disaat anak-anak belum bangun hingga saat menemani mereka bermain. Lucunya semakin hectic suasana rumah, saya bisa berkonsentrasi dan sigap menyelesaikan. Jadi menulis memang tanpa waktu khusus dan tidak harus ditempat sunyi. Dimanapun berada saya bisa menyicil naskah. Alokasi waktu dalam membuat draft kasar setiap harinya mungkin sekitar 2-3 jam. Terkadang lebih, makin dibaca ulang ada saja yang diperbaiki atau ide yang datang.

Menyelesaikan naskah pakai media apa?

Saya selalu menggunakan google doc di HP karena hp media yang paling fleksibel bagi saya. Saya bisa menulis dimanapun berada saat inspirasi itu datang tanpa harus menunggu waktu yang sengaja diluangkan misalnya saja memakai media laptop. Kemudian proses editing biasanya di laptop sebelum dikirim ke mentor by email.

Pernah mentok atau menyerah dalam prosesnya?

Kalau menyerah alhamdulillah tidak pernah. Bosan, jenuh, ga ada ide pasti. Langkah yang saya ambil refresh sejenak, membaca karya orang lain yang bisa jadi inspirasi naskah saya kemudian memulainya kembali. Apapun hasilnya, jangan pernah terhenti. Karena berhenti berarti memilih mati.

Proses membuat naskah ini adalah 3 bulan setelah kepulangan kami ke Indonesia. Sungguh Eindhoven masih sangat hangat dan lekat. Saya masih bisa membayangkan dengan jelas dan sangat detail kondisi di sana, masih mengingat jelas nama jalan, nomor rumah, halte dan stasiun. Juga dibantu oleh kompilasi foto-foto untuk mengembalikan memori kembali. Maka saat itu memang waktu yang paling tepat untuk memulai naskah.

Alhamdulillah a’la kulihal selama 40 hari naskah rampung! Saya menyetorkan 150 halaman A4 (300 hal A5) sungguh prestasi yang tidak biasa bagi diri.

Tahap berikutnya finishing naskah, saya mereview ulang semua halaman untuk mengecek tata bahasa dan kalimat sebelum submit ke penerbit. Prosesnya sekitar 2 bulan. Dalam perjalanannya saya pernah mengikuti kelas ngedit naskah dari quanta book (penerbit mayor). Kelas ngedit naskah memang diperuntukan bagi yang ingin menjadi editor di sebuah penerbit atau bagi calon penulis yang ingin apply naskah. Saya belajar sesiap apa naskah hingga layak disubmit ke penerbit, bagaimana pentingnya EYD dan tata bahasa lainnya.

Memilih penerbit, indie atau mayor?

Ada yang sudah tau apa bedanya penerbit indie dengan mayor? Saya akan coba bahas sekilas apa perbedaan keduanya. Penerbit mayor adalah penerbit besar. Tim yang bekerja di dalamnya tentu banyak, terdiri atas editor, lay outer, ilustrator, bagian marketing, dan distribusi. Naskah yang masuk akan diseleksi dengan ketat, baik isi, tata bahasa, dan gaya penulisan. Dari segi biaya, penerbit mayor memang tidak berbayar. Karena proses terbit dan cetak mereka yang tanggung. Penulis biasanya akan dapat royalty 10-15% dari hasil penjualan yang telah mereka tentukan. Kabarnya penerbit mayor setidaknya akan mencetak 2000 eksemplar yang akan didistribusikan diseluruh Gramedia di Indonesia.

Penerbit indie, sesuai namanya independent. Tentu untuk menerbitkan naskah tidak ada seleksi. Setiap orang berhak untuk menerbitkan naskahnya. Setiap naskah yang masuk akan diedit ringan, dari segi tata bahasa, typo tanpa mengubah isi. Penerbit indie, biaya cetak dan terbit dibebankan kepada penulis. Hal ini memberi kesan kalau penerbit indie membutuhkan biaya.

Masalah distribusi, penulis harus lebih berjuang karena penerbit indie tidak mendistribusikan buku ke toko. Mereka hanya memasang pada display website tapi hanya sesaat karena banyaknya naskah yang masuk setiap harinya.

Pilih penerbit mayor atau indie?

Saya ingin mencoba ikut seleksi penerbit mayor. Karena buku perdana, pengennya all out mulai dari proses pembuatan hingga distribusi. Jangan sampai nyesel karena ga pernah apply ke penerbit mayor, belum tentu ada kan buku selanjutnya. Begitu pertimbangan saat itu😅

Selama satu tahun saya menanti kabar dari penerbit mayor. Saya hanya memilih 2 penerbit, keduanya tidak ada yang lolos. Penerbit A memang salah genre, sepertinya jenis naskah saya tidak sesuai dengan genre mereka. Harapan saya sangat besar dengan penerbit B, qadarullah emang tidak lolos.

Ya, setahun proses penantian akhirnya zonk hingga akhirnya saya turun semangat. Naskahnya udah basi, excitednya sudah hilang begitu yang saya alami. Hingga beberapa bulan kemudian semangat itu datang lagi, mulai mencari-cari penerbit indie.

Dalam memilih penerbit indie saya juga menemukan beberapa kriteria. Dari segi biaya, ada penerbit yang menawarkan biaya paket terbit dan cetak. Ada juga yang menawarkan tanpa biaya, tetapi harga buku dibandrol sangat mahal. Dari lokasi, saya tidak ingin jauh-jauh diluar Jakarta karena akan menyangkut ongkos kirim nantinya. Lagian kalau ada masalah dengan penerbit saya akan lebih mudah menyelesaikannya hehe. Mencari the best review penerbit indie, hingga akhirnya saya memilih One Peach Media yang berlokasi di Jakarta Barat.

Review dari Penulis, layoutnya bagus, OPM professional melayani, ramah dan kooperatif. Alhamdulillah hingga hari ini saya merasakan hal yang sama, adminnya sangat ramah. Dalam proses editing memang tidak ontime karena terkendala covid-19. Saya bisa memaklumi.

Memilih cover buku

Meskipun desain cover akan dibuatkan oleh penerbit (mayor/indie) namun jauh sebelum saya memasukkan naskah ke penerbit, Cover GUE (Groetjes Uit Eindhoven) sudah rampung. Saya memang memilih mendesain mandiri. Kenapa? Karena banyak pesan yang ingin saya sampaikan lewat cover.

Entah kenapa, hingga saya berjodoh dengan @kuasstudio desainernya @Arinda teman saya di Eindhoven. Diskusi saya dengan Arin, saya menginginkan cover buku yang otentik dan identik. Cover GUE harapannya gue banget hehe..tapi saya tidak bisa membayangkan realnya akan seperti apa. Rupanya Arin bisa mengurai apa yang saya mau. Di Eindhoven saya memang sering bepergian bersama Arin. Terutama perjalanan keluar kota dengan membawa dua anak, Arin selalu jadi partner setia saya yang tidak pernah membiarkan saya ribet dorong stroller, menggotong anak-anak sendiri.

Covernya memang detail banget, Arin paham sekali bagaimana style harian kami, pernak pernik keluarga kami, apa lokasi-lokasi yang jadi destinasi kami. Hingga akhirnya cover yang otentik dan identik ini hadir.

Respon pertama ketika buku ini launching memang banyak yang merespon, covernya lucu, gemesh sekali 😆 Alhamdulillah a’la kulihal.
Oh iya selain cover Arin juga mendesain dua peta yang identik dengan Belanda. Unik dan elegant banget.

Proses terbit dan cetak oleh penerbit One Peach Media

Rasanya ada haru yang mendalam ketika penerbit mengabarkan kalau naskah saya sudah siap untuk dicetak. Foto pun hadir sebagai media distribusi. “Kegagalan” saya tidak berjodoh dengan penerbit mayor memang sempat menimbulkan kekecewaan, namun hari ini semuanya terbayar sudah.

Proses dan perjalanan hingga naskah ini siap cetak memang meninggalkan titik capai yang tidak biasa bagi saya. Berkomitmen menyelesaikan naskah selama 40 hari, yang tidak pernah saya lakoni sebelumnya, sungguh nikmat yang tak terkira. Totalitas saya dengan memilih cover sendiri (tentunya ada tambahan biaya), kerjasama penerbit One Peach Media yang cukup memuaskan, akhirnya saya harus mengatakan predikat apapun yang disandangkan pada buku ini, tidak akan mampu membayar pengalaman ini.

Support dan kegembiraan dari teman-teman pun turut hadir. Terutama teman-teman di Belanda karena kami pernah mengikat momeri bersama. Pun teman-teman lama yang tidak pernah ada interaksi selama ini, ataupun teman-teman media sosial bertatap muka pun kami tidak pernah, terimakasih semuanya. Saya semakin yakin, semoga dengan hadirnya GUE (Groetjes uit Eindhoven) memberi inspirasi bagi orangtua diluar sana dan menambah kiprah amal jariyah saya. Semoga Allah bisa saksikan, saya seorang ibu yang tidak punya banyak peran semoga Engkau Ridho.

Tidak disangka GUE juga mendapat predikat bintang 5 yang direkomendasikan oleh editor. Saya pikir predikat ini hanya gaya marketing penerbit saja, setelah dikonfirmasi ternyata tidak semua penulis mendapat penghargaan ini. Saya juga sempat kepoin memang predikat bintang 5 jarang sekali. Alhamdulillah a’la kulihal. Semakin yakin dan pede tentunya, semoga buku ini punya pengaruh di tengah masyarakat.

Terimakasih semuanya yang sudah support GUE hingga hari ini, semoga Allah kekalkan bonding ini hingga JannahNya.

Apa yang kamu bayangkan tentang Kota Eindhoven, Belanda?

Sepeda sebagai alat transportasi utama?
Pabrik Philips yang ternama?
Klub sepak bola yang mendunia?
Maternity care-nya yang luar biasa?

Di tengah semua itu, keluarga kecil ini memiliki banyak tantangan yang harus ditaklukkan. Bagaimana dukungan seorang istri ketika suami melanjutkan sekolah dan stategi hidup di Belanda. Pengalaman melahirkan di Belanda yang ternyata sangat berbeda dengan di Indonesia. Terheran-heran dan terkagum bagaimana anak-anak tumbuh dan dibesarkan di Belanda.

Kamu yang punya kenangan dengan sepeda atau NS, gimana? baper atau bapeeer bangeet?

Temukan, bumbu-bumbu kisah demi kisah didalamnya. Semoga jadi obat kangen bagi teman-teman yang pernah terpaut hatinya dengan Belanda.

Travelling lewat narasi, jalan-jalan ke negeri kincir angin lewat sebuah cerita berhikmah karena deskripsi tempat, cuaca, dan waktu detail setiap keadaan. Semoga jadi teman inspirasi di kala pandemi ini.

Jakarta, Agustus 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *