Spiritual Journey

Zona dan Ruang bernama Perantauan

“Baru kemaren deh back for good, kok sekarang udah harus pindahan lagi. Kardus 2 tahun lalu belum dibuka semua”.

Betul-betul mengejutkan persis 2 tahun lalu di bulan yang sama kami repot luar biasa mau pulang ke tanah air. Sekarang pun ultimatum itu datang kembali ketika suami dipindahkan di site office Bojonegoro. Saya tentu saja excited karena di Jakarta memang tidak nyaman, apa-apa serba terbatas, anak-anak tidak punya ruang gerak. Hidup di Jakarta memang semuanya tergantung money.

Hanya berkemas dan bergerak cepat dalam waktu 2 minggu kami harus pack semua barang, pack habis ga ada satupun yang tertinggal. Dalam waktu sesingkat-singkatnya kami harus sudah dapat kontrakan. Serba dadakan, serba kebingungan, serba ketidakpastian, itulah awal mula perjalanan dan pembelajaran itu bernama perantauan. Hidup memang tentang ruang dan zona, selalu bermetamorfose dan berkembang.

2011-2012 Purwakarta 2012-2015 Jakarta 2015-2016 Palembang 2016-2018 Belanda 2018-2020 Jakarta 2020- (?) Bojonegoro

Siklus hidup 9 tahun berumah tangga, Alhamdulillah banyak kota yang disambangi sepaket dengan tantangannya. Jika sudah menemukan zona nyaman segeralah keluar agar kau temukan warna warni zona yang lain. Begitu yang sering kami gaungkan dan juga Allah takdirkan untuk hijrah dari kota ke kota. Menyoal soal merantau mungkin tidak semua orang berani melaluinya. Merantau memang membentuk mental sekaligus mengaduk-aduk jiwa. Bagaimana tidak, tanah rantau mengajarkan kemandirian yang lebih, banyak tantangan dan adaptasi yang dilalui. Saling membahu antar keluarga membantu proses adaptasi di rantau.

Hijrah kami ke Jawa Timur termasuk hijrah yang paling heboh karena kami memboyong semua barang (sebelumnya saya tinggal di rumah mertua). Segala printilan rumah harus saya boyong, pun jumlahnya bertambah mainan dan suvenir sekitar 13 kardus dari tanah Londo. Kami harus berbesar hati dan ikhlas mengemas semua barang. Buku dan mainan memang kebutuhan anak-anak yang belum bisa dikurangi, selama dalam masa bertumbuh dan belajar harus bersabar dengan segala kerepotan. Memboyong semua perabot dan dapur memang sudah diputuskan angkut semua daripada membeli baru kembali.

Tips mengemas barang

1. Sortir dan pilah semua barang yang akan dibawa Akhirnya buku-buku bacaan kami 10 tahun lalu bertemu jodohnya untuk didonasikan. Saya mendonasikan ke masjid al Falah Bambu Apus dengan bantuan Go Box. DKM masjid cukup senang menerima buku kami dan mereka bersedia untuk sortir kembali. Alat dapur, sortir kembali. Saya punya banyak lunch box microwave yang cukup banyak tapi tidak terpakai. Kami titip di tempat pembuangan sampah, bagi yang butuh silakan ambil. Pakaian, lagi-lagi pakaian selalu ada aja yang tidak terpakai, padahal hampir setiap 3 bulan saya memilah-milah pakaian. Kami donasikan ke tetangga. Mainan anak-anak yang tidak terpakai lagi, satukan ke dalam satu box untuk di simpan rapi.

2. Packing barang Semua alat dapur yang berbahan kaca saya bungkus kain lalu di bubble wrap. Furniture yang keliatan ringkih dibungkus bubble wrap juga. Barang dimasukkan ke dalam dus per kategori dan ditulis itemnya disetiap kardus. Buku dan mainan cukup berat, agar tidak terlalu berat dibagi dua antara buku Dan mainan setiap kardusnya. Memilah barang sesuai yang dibutuhkan memang lebih baik karena akan menghemat pengeluaran di lokasi tujuan. Bahkan sapu yang memang diperlukan ikut diboyong.

3. Cargo yang digunakan Saya sempat mencari jasa pindahan yaitu deliveree. Jasa ini cukup professional dan barang tentu aman. Harganya cukup tinggi. Deliveree juga menyediakan fitur-fitur tambahan seperti helper. Dan ada beberapa aturan seperti jarak antara rumah dan tempat pick up truk, lama menanti di lokasi penurunan barang.

Di pekan terakhir saya dapat kabar dari teman site yang duluan pindah kalau mereka pakai jasa truk sayur bojonegoro-jakarta. Akhirnya saya ikut truk sayur, minusnya memang agak khawatir terpercaya atau tidak. Plusnya harganya lebih murah. Atas review teman saya yang katanya aman, kami pun pakai jasa truk sayur.

99% barang diangkut dengan penuh hati-hati dan selamat. Memang ada meja yang patah dan pintu lemari yang lepas tapi karena kondisi barang yang sudah tua. Ada mainan robotic yang perlu kehati-hatian membawanya, driver menawarkan mainan ini di simpan di sebelah sopir. Alhamdulillah semuanya dalam kondisi baik.

Hari minggu kami mengangkut barang ke truk dengan bantuan mobil pick up 4x bolak balik karena rumah kami di gang tidak bisa dilewati truk. Sekitar 2 jam selesai. Maka kami bersiap menuju stasiun untuk berangkat ke Bojonegoro. Hampir tidak pernah merasakan sensasi kereta api di Indonesia dalam waktu 12 tahun terakhir, saya begitu terpukau melihat stasiun Gambir. Stasiun Gambir memang mewah dan bersih mungkin khusus melayani penumpang eksekutif dan luxury

.

Protokol kesehatan di stasiun:

1. Setiap penumpang wajib membawa surat rapid test. Kami melakukan rapid test di luar agar waktunya lebih leluasa dan tidak terburu-buru. Tarifnya 150ribu/orang.

2. Ruang tunggu stasiun berjarak 2 bangku antar orang. Saya melihat orang-orang cukup taat aturan.

3. Saat check in petugas memberi face shield kepada penumpang Kondisi di dalam kereta api memang tidak ramai, gerbong yang kami tempati hanya terisi 1/4 nya. Setiap 3 jam petugas kebersihan berkeliling mengecek sampah. Saya juga mendapat info kalau setiap penumpang akan ada pengecekan suhu secara berkala tapi kami tidak mendapatinya.

Kondisi toilet bersih dan tidak bau mungkin dibersihkan secara berkala dan penumpang hanya sedikit. Oh iya handsanitizer tidak disediakan di kereta jadi silakan membawa masing-masing. Cukup was-was dan khawatir dengan kondisi pandemi jadi kami banyak membawa bekal makanan. Hanya saja malamnya kami sempat memesan makan malam.

Kereta sembrani yang melaju dengan kencang menyinggahi stasiun Cirebon, Tegal, Pekalongan, dan Semarang hingga kami sampai di Bojonegoro. Sembilan jam perjalanan malam cukup nyaman dan jadi tempat peristirahatan kami sejenak. Di sambut kota kecil Bojonegoro sepaket dengan pemandangan yang jauh dari ibukota. Bojonegoro di pagi hari sangat sunyi dan sepi, pun di jam sibuk pun memang kemacetan tidak ada.

Pagi itu kami bergegas ke tempat penginapan yang tidak jauh dari stasiun. Menunggu truk datang dengan waktu tempuh lebih lama yaitu 24 jam. Pindah antar kota rasa liburan karena terpaksa melewati kondisi ini alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Welcome to Bojonegoro!

Bojonegoro, Okt 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *