• Hamil dan Melahirkan

    Khalayan Sebungkus Nasi Padang di Catharina Hospital

    “What do you want to eat? You can choose any menu” Tanya petugas gizi rumah sakit. Perutku keroncongan. “Rice!!” Jawabku spontan. Senyum getir petugas mengecewakanku. “Oh no, you can choose bread, cereals, meat, fruit or fish” jawabnya. Sebuah apel, cereal, susu dan roti yang disuguhkan nutrisionis sebagai sarapan pagi tidak mengenyangkan perutku. “Aku ingin makan nasi” gerutu hatiku. Sudah terbayang gerobak soto dan nasi uduk di pinggiran rumah sakit. Ayam gulai dan sambal ijo di restoran minang. Semua sungguh hanya khayalanku semata. Siang itu, ikan hangat dan roti cukup mengenyangkan perutku daripada segelas susu & cereal lagi. Petugas sibuk memasuki ruanganku. Ucapan selamat atas kelahiran si kecil tak henti menggema.…

  • Hamil dan Melahirkan

    Cerita Persalinan di Penghujung Exam Week

    1 Februari 2017 Handuk, piyama, pakaian baby, kaos kaki, diapers, dan sendal memadati koper coklatku. Sebuah carseat merah dan kamera siap dibawa. Aku memasukkan 2 centong nasi dan nugget ayam buatanku pada lunch box hijau. Ponsel genggamku bergetar, azan zuhur berkumandang. Aku ingin beristirahat sejenak, melepas lelah perjalanan dari rumah sakit. Sulungku sibuk memilih mainan dari box birunya. Aku berbaring di kasur ditemani kontraksi yang semakin sering. Suami terus mengobservasi dan sesekali kembali mengerjakan tugasnya. Malam semakin sunyi. Pohon-pohon gundul tumbuh bagai tak bernyawa. Dingin semakin pekat. Musim dingin membuat malam lebih panjang. Aku perlahan mengisi perut yang tidak lapar, sebagai cadangan energi bagiku. Kala kontraksi datang aku banyak terdiam…

  • Hamil dan Melahirkan

    Sepenggal Harapan di Lantai 11 Catharina Ziekenhuis

    Sulungku sudah 1 minggu tidak sekolah. Malam hari suhu badannya tinggi. Termometer digitalku tak bergerak turun, selalu menunjukkan angka 39 derajat celcius. Sirup stroberi penurun panas hanya sesekali terminum, itupun setelah beberapa kali aku menegonya. Entah kenapa dari dulu sulungku susah sekali minum obat. Matahari menerangi kegelapan, seketika suhu tubuhnya turun. Namun malam datang demampun kembali datang. Siklus yang kami alami seminggu ini. Virus winter yang menggorogoti sulungku. Sulungku hampir setiap jam terbangun dan gelisah. Akupun menanggung beban semakin berat kehamilan yang hampir serusia 37 minggu. Rasanya tak ada lagi tidur nyenyak semenjak 1 bulan terakhir. Suamiku tiada malam yang terlewati tanpa paper dan rumus-rumusnya. Minggu ini adalah hari-hari terberatnya.…

  • Eindhoven

    Kisah 6 jam Terperangkap di Ladang Tulip

    “Siap kan mau sepedaan lagi?” Lontar suamiku sambil mengecek sebuah website rental sepeda. Tulip, orchid, dan rose terbayang-bayang di pelupuk mataku bersepeda menikmati bunga-bunga nan cantik. Belahan bumi utara mulai semarak dengan dedauan. Bunga-bunga kuncup mulai bermunculan. Merah merona tulip diburu para pencintanya. Matahari lebih lama menampakkan diri. Musim semi adalah musim yang paling aku nantikan. Nasi ayam kecap berbungkus aluminium foil, aneka chips, roti dan biskuit memenuhi backpackku. Tiga lembar tiket Nederlandse Spoorwegen (NS), ID card, dan Ov chipkaart tersusun rapi di dompetku. Kereta berlogo biru membawa kami ke stasiun Leiden. Pagi itu stasiun ramai dipadati pengunjung. Aku mencari-cari bus khusus berwarna hijau. Antrian mengular panjang. Petugas satu persatu…

  • Eindhoven

    Sebongkah Rindu pada Ukhuwah

    Tiada terasa lebih surga bagi dua hati yang saling mencinta yang semisal menikah. Maka di lapis-lapis keberkahan rumah tangga menumbuhkan putra-putri berbakti yang mengenal Rabbnya, mentauhidkan Ilahnya, memesrai kebersamaan dengan-Nya, menikmati ketaatan pada-Nya, bersumsumkan akhlaq mulia dan bersendikan adab jelita.” Salim A. Fillah. Pagi itu daun daun mulai menampakkan tunasnya. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Merah, kuning, ungu dan biru. Rupanya pohon yang membeku di musim dingin kini kembali bernyawa. Musim semi nan cantik telah datang. Aku mengecek ponsel genggamku, membuka 9292 aplikasi transportasi andalanku. “Eindhoven-Rotterdam, pukul 10.10 di peron 5” aku mengabarkan pada suami. Selimut, matras, perbekalan, dan mainan memenuhi tasku. Angin berhembus di koridor peron, pertanda sebuah kereta datang.…

  • Eindhoven

    Hujan Kebaikan di Tanah Rantau

    “Crib, botol penghangat bayi, changing mat, baby bath up, hoeslakentjes, romper, molton onderlakens, carseat, handuk, dan pakaian size 50-56 cm…Wah masih banyak yang belum” aku mengecek daftar perlengkapan lahir si kecil. Aku pikir beberapa pakaian bayi yang aku boyong dari tanah air bisa terpakai, rupanya ukurannya terlalu besar. Dua lembar daftar perlengkapan persalinan dari bidan membuatku bingung. Hampir semua istilah Belanda yang digunakan aku tidak mengerti. Aku meminta bantuan mesin pencari google. “Yah kita mau cari kemana perlengkapan bayi sebanyak ini dan harganya lumayan mahal ” aku mengecek sebuah website toko. Kami baru 1 bulan menginjakkan kaki di negeri van oranje ini. Sedangkan 3 bulan lagi perkiraan persalinanku akan tiba.…

  • Eindhoven

    De Doorstroom, Inspirasi Sebuah Toko Bekas

    “Fiz tau ga ini toko bekas loh, barangnya bagus-bagus murah lagi” aku dengan seorang teman melangkahkan kaki ke sekolah melewati sebuah toko. Toko yang apik terapit oleh stasiun pengisian bahan bakar dan toko furniture. Pukul 12 siang orang-orang tampak satu persatu memarkirkan sepedanya. Kami menantikan petugas membukakan pintu tokonya. De Doorstroom sebuah toko bekas yang berjarak 200 meter dari sekolah sulungku. Seorang perempuan yang memakai coat hitam melontarkan satu senyuman padaku. Hatiku hangat seketika. Tidak asing lagi ku temui senyuman orang-orang di sini, entah sekedar menyapa atau menghibur anak-anak yang sedang rewel. Keramahan warga Belanda membuatku betapa indahnya dunia, meskipun mereka blak-blakan tidak mengenal basa basi seperti budayaku. Pintu terbuka…

  • Kesehatan

    Cacar Air Berjamaah Menjelang Travelling yang Mendebarkan

    Liburan musim panas telah tiba, anak- anak libur sekolah. Tempat wisata ramai dikunjungi orang-orang. Apalagi kalau bukan pantai, tempat yang paling padat bagi bule Eropa. Ini musim panas pertama kami di Eindhoven. Aku dan suamipun merencanakan liburan berkunjung ke negara tetangga. “mau ikutan trip PPI Enschede ga bunda? 6 hari 4 negara via darat, simple tinggal ikut” suamiku menyodorkan ponsel genggamnya. Travelling bersama asik juga, tentu aku tidak repot lagi mengurus transportasi dan membuat itinerary. Budget yang ditawarkan PPI pun langsung kami lunasi. Aku membaca ulang itinerary yang sudah ditangan. Ku ambil note kecilku. Aku membuat list barang bawaan dan mencatat persediaan makan si kecil diawal Mpasinya nanti. Aku bingung,…

  • Kesehatan

    Aku, Si Kecil, dan Consultatiebureau

    Ku buka ponsel genggamku, sebuah pesan singkat mengingatkan kalau hari ini kami ada janji dengan consultatiebureau, sebuah posyandu yang berjarak 500 meter dari rumah. Hampir setiap bulan kami membawa Faiha ke posyandu. Entah memenuhi jadwal vaksin atau sekedar mengecek tumbuh kembangnya. Setiap pertemuan kami bertemu dengan tenaga medis yang berbeda. Selang seling, mereka dokter atau nurse. Memang berada di negeri ini kami tidak bisa memilih dokter. Hanya posyandu yang berlokasi di Wenckenbachstraat ini yang bisa kami kunjungi. Sebuah gedung tinggi menjulang menyambut kami pagi itu. Awan tak nampak menemani langit biru. Kicauan burung tak henti saling bersautan. Sebuah basisschool, tempat kursus bahasa, dan posyandu menyatu di gedung ini. Aku menekan…

  • Sekolah Anak

    Kisah Hari Pertama Sekolah di Tarieq Ibnoe Ziyad

    Mentari tak tampak menyinari pagi, angin berhembus mengebaskan wajahku. Dua lembar roti, 1 buah apel dan sepatu olahraga putih aku persiapkan untuk sulungku. Ini hari pertama sulungku sekolah. Pukul 8 pagi kami berdiri di depan pagar sekolah. Sulungku berkelumun selimut di buggy coklatnya. Tak ku dapati seorangpun di depan pagar. Dingin menggigit tulang. Rupanya, penjaga sekolah tak bergeming pada kami yang mengharap pagar dibuka lebih awal. Bel berdering kencang, seketika pagar sekolah dipadati kerumunan orang- orang. Aku terkaget, mobil-mobil yang berjajar di pinggir jalan ternyata berpenghuni. Halaman sekolah terbentang luas. Tampak sebuah panjatan kuning besar dan perosotan membeku tak disinggahi anak-anak. Parkir sepeda mulai ramai, anak-anak mengiringi sepedanya yang baru…