• Eindhoven,  Our story

    5 Habit Baik dari Rantau untuk Tanah Air

    Aiih kok judulnya berlebihan amat, mau bahas apa sih? Hehe ga kok, ini sebongkah pegangan dan nasehat kami selama di rantau. Pengennya dibawa pulang ke tanah air, dijaga baik- baik. Pelan- pelan kami ingin terapkan di rumah. Jangan patah semangat, meskipun kita berada ditengah buih lautan yang berbeda. Jangan pernah berfikir, kalau hal sepele yang kita lakukan tidak membawa kebaikan apa-apa. Yang bikin kangen Belanda itu, rupanya jalan santai kami saat antar jemput Yaqdzan ke sekolah. Garam habis, minyak goreng kosong, dan persediaan makanan sedikit tersisa saya musti ke supermarket dulu. Mau naik bus sayang ongkosnya karena jaraknya hanya 800 meter. Ya sudah, kami jalan santai saja. Jalan kaki karena…

  • Our story

    Suka Duka Seorang Ibu Mengikuti 30DWC

    “Mengapa teman-teman semua harus menyelesaikan target ini? begitu tanya seorang mentor kepada setiap peserta yang hadir di acara ngobrolin nulis di Depok. “Coba tebak, kenapa ada Fighter yang bisa konsisten menulis tanpa henti tapi ada juga yang bolong-bolong. Kira-kira kenapa? Tentu ada banyak alasan” lanjut sang mentor. Saya sedang kondisi megap-megap mengikuti 30dwc hari ke-8. Ketika memutuskan untuk mengikuti 30 day challenge writing (30dwc), sebetulnya saya punya motivasi yang biasa-biasa aja, ya sekedar mengisi waktu. Bahkan bisa dikatakan ga punya motivasi yang berarti. Saya ikutan kelas ini juga 1 hari sebelum penutupan. Ya lagi-lagi iseng saja. “Mba yakin semuanya akan baik-baik saja hingga akhir?” tanya sang mentor yang begitu menohok.…

  • Our story

    Sepotong Syukur dari Gelombang Panas

    “Kardus, lakban dan bubble wrap masih ada yang kurang?” Tanya suamiku. Pagi itu kami sibuk berkemas. Kondisi rumah amat berantakan, lorong-lorong dipenuhi kertas koran dan keringat bercucuran tiada henti. Minggu ini akan jadi waktu-waktu tersibuk, mulai dari mensortir barang, membereskan gudang, dan packing-packing. Aneka suvenir, peralatan dapur, mainan anak, dan buku-buku mendominasi sudut-sudut rumah. “Yakin piring-piring koleksi akan aman di kargo?” tanya suami. Selembar kain dan bubble wrap membalut piring-piring kaca. Aku membungkus dengan penuh hati-hati. Pintu lorong terbuka lebar, mengharap semilir angin berhembus. Kipas angin yang teronggok 9 bulan di gudang kini kembali berdiri di pojok ruang tamu. Pukul 10 malam matahari kembali keperaduannya dan kembali menampakkan diri lebih…

  • Our story

    Kebiasaan Kecil itu Dimulai dari Rumah

    “Gimana, kalian jadi tour museum?” tanya seorang teman. Philips museum, Spoorweg museum, dan Philipsdorp adalah museum yang sering disebut-sebut dan direkomendasikan kepadaku. “Ah tidak usah” aku menepis tawaran itu di hati. “Lagian Yaqdzan juga belum terlalu mengerti” pikirku. Adanya taman-taman gratis yang disediakan pemerintah bagiku sudah lebih dari cukup untuk membantu tumbuh kembang anak. Struktur jalanan yang teratur sudah membuatku bahagia, anak-anak leluasa bersepeda dan berlatih keseimbangan dengan menggunakan scooter. Perpustakaan kotapun terbuka lebar bagi anak-anak. Sungguh nikmat yang besar bagiku fasilitas yang diberikan pemerintah. Voj adalah playground yang berjarak 200 meter dari rumah kami. Disaat musim dingin, Voj bagai goa yang dihiasi jaring laba-laba. Pagarnya terkunci rapat. Tidak ada…

  • Our story

    Branding Seorang Muslim

    “Seandainya kita tidak bertemu lagi di dunia, semoga diakhirat bertetangga seperti ini lagi” aku membuka pesan singkat dari seorang teman. Tidak bisa aku pungkiri, dua butir air mataku tumpah seketika. Siang itu aku sibuk menyalakan api membuat makanan. Tepung, bawang putih, selai kacang, terasi, dan bumbu kacang tersedia di meja. Cilok, makanan kudapan ala Bandung yang dirindukan bagi perantau sepertiku. Meskipun aku belum ahli membuatnya, tidak ada cara lain selain harus sering mencoba. Terkadang rasanya pas dan terkadang gagal. Trial error sudah menjadi hal biasa bagiku. Tiga piring cilok akan menjadi santap kudapan kami di pengajian malam itu. “Mudah-mudahan ciloknya enak” aku bergumam menatap cilok yang bentuknya tidak bulat sempurna.…

  • Our story

    Mendatangkan Apresiasi dari Kebaikan Kecil

    I think the rapport of Yaqdzan is still at your home. Can you bring it to school as soon as possible? I need it to make a new one for next week” aku sejenak membuka notifikasi surat elektronik. Liburan sekolah akan datang, anak-anak akan menerima raport. Tidak terasa Yaqdzan sudah 3 bulan sekolah. Menerima penilaian dari sekolah dan berdiskusi dengan sang guru adalah hal yang amat dinantikan. Tidak akan hilang dalam benakku bagaimana hari pertama sekolah Yaqdzan yang penuh drama. Juga kekhawatiranku terhadap adaptasi bahasanya. Bagaimana tidak, hanya bahasa Indonesia yang diketahuinya. Bahasa Belanda yang menjadi bahasa sehari-hari di sekolah adalah sesuatu yang baru dikenalnya. Sedangkan bahasa Inggris yang fasih…

  • Our story

    Kesaksian Bisu Schipol Airport

    “Ibu yakin berangkat berdua saja dalam kondisi seperti ini?” tanya sang dokter agak pesimis. Dua buah koper ukuran besar menjadi boyonganku ke negeri tulip. Aku tidak mau melewatkan jatah bagasi kami 5 kg pun. Perbekalan makanan paling dominan memadati bagasi. Cobek kayu ukuran kecil adalah barang sakti bagiku, bawaan yang tidak boleh terlupa. Rasanya ini perjalanan terjauhku tanpa ditemani suami. Tak ada lagi pilihan lain aku harus berangkat berdua saja bersama sulungku. Ku dapati kursi berjajar 3 baris, jarak antar bangku lebih luas. Kami menelusuri lorong-lorong pesawat mencari nomor kursi yang tertera pada tiket. Rupanya tidak semua kursi berpenghuni. Waktu mengantarkan kami pada kota yang dikenal dengan the lion city.…

  • Our story

    Totalitas & Penghambaan

    Rendang, sambal botol, kecap, kering tempe memenuhi koper hijau yang bertengger di kamar. Aku sibuk mempersiapkan keberangkatan suami. Ada kebahagiaan yang menyertai, merajut asa merengkuh cita. Namun kesedihan juga hadir seketika, aku dan sulungku akan menjalani hari-hari berdua melewati penghujung trimester pertama kehamilan. Agustus 2016 Pagi itu bandara Soekarno Hatta sebagai saksi bagi kami sekeluarga. Aku melepas suami dengan berat dan kesedihan yang terpendam. Entah kapan kami berkumpul kembali. “Tak ada keberhasilan tanpa perjuangan” aku menghibur hatiku. Suamiku tak henti mengecek beberapa website rumah. Mengunjungi agen dan bertanya pada teman. Memang mencari rumah sewaan keluarga di negeri tulip tidaklah mudah. Seperti mencari jodoh begitu guyonan orang-orang. Benar saja, tidak sembarangan…

  • Our story

    Dua Cahaya antara Eindhoven & Manchester

    “Yah yakin mau sekolah lagi?” tanyaku pagi itu pada suami yang sepertinya sudah nyaman dengan pekerjaannya. “Iya aku ingin penuhi keinginan bapak yang dulu meminta lanjut S2” ujarnya. Begitu awal mula kami merajut benang cita. Beberapa lembar essai dan persyaratan sudah terpenuhi. “Yang penting ikhtiar tiada batas biarlah takdir yang mengaturnya” tutur suamiku yang makin hari semakin sibuk. Kerja di lapangan, mengikuti kelas IELTS dan berlatih mandiri di rumah menjadi makanan hariannya. Siang itu bumi Sriwijaya terik benderang. Panas membakar kulit dan keringat bercucuran. Es kacang merah dan pempek adalah dua kuliner yang tak pernah bosan untuk disantap. Sebuah surat elektronik datang dari Britania Raya dan negeri kincir angin. Memberi…

  • Our story

    Belajar Mandiri dari Buggy yang Kempes

    “Wah benar aja nih? Kan lumayan dapat ayam harga murah” aku mengecek website sebuah toko. Hidup di perantauan dengan barang diskonan, bagaikan perangko bagiku. Mulai dari roti yang dijual murah karena masa konsumsi segera berakhir, ikan diskonan, buah obral, maupun pakaian diskonan diakhir pergantian musim. Maklum saja sebagai keluarga mahasiswa dengan 2 anak kami harus pandai-pandai mengatur keuangan. Aku bergegas menuju toko berlabel biru. Tanger markt, toko halal pemilik Turki. Menurutku buah-buahan harganya relatif murah dan berbagai macam beras tersedia di toko ini. Santan, kecap, bumbu asia, bihun, dan beras lontong menjadikan toko ini komplit bagiku. Tentu saja ayam diskonan per 10 kg hanya 10 euro yang selalu aku idamkan.…