• Our story

    Dua Cahaya antara Eindhoven & Manchester

    “Yah yakin mau sekolah lagi?” tanyaku pagi itu pada suami yang sepertinya sudah nyaman dengan pekerjaannya. “Iya aku ingin penuhi keinginan bapak yang dulu meminta lanjut S2” ujarnya. Begitu awal mula kami merajut benang cita. Beberapa lembar essai dan persyaratan sudah terpenuhi. “Yang penting ikhtiar tiada batas biarlah takdir yang mengaturnya” tutur suamiku yang makin hari semakin sibuk. Kerja di lapangan, mengikuti kelas IELTS dan berlatih mandiri di rumah menjadi makanan hariannya. Siang itu bumi Sriwijaya terik benderang. Panas membakar kulit dan keringat bercucuran. Es kacang merah dan pempek adalah dua kuliner yang tak pernah bosan untuk disantap. Sebuah surat elektronik datang dari Britania Raya dan negeri kincir angin. Memberi…

  • Our story

    Belajar Mandiri dari Buggy yang Kempes

    “Wah benar aja nih? Kan lumayan dapat ayam harga murah” aku mengecek website sebuah toko. Hidup di perantauan dengan barang diskonan, bagaikan perangko bagiku. Mulai dari roti yang dijual murah karena masa konsumsi segera berakhir, ikan diskonan, buah obral, maupun pakaian diskonan diakhir pergantian musim. Maklum saja sebagai keluarga mahasiswa dengan 2 anak kami harus pandai-pandai mengatur keuangan. Aku bergegas menuju toko berlabel biru. Tanger markt, toko halal pemilik Turki. Menurutku buah-buahan harganya relatif murah dan berbagai macam beras tersedia di toko ini. Santan, kecap, bumbu asia, bihun, dan beras lontong menjadikan toko ini komplit bagiku. Tentu saja ayam diskonan per 10 kg hanya 10 euro yang selalu aku idamkan.…

  • Our Story

    Kraamzorg, Pelipur Lara di Tanah Rantau

    “Kraamzorg akan menyambut kalian di rumah, kami sudah menelepon kantor homecare” jelas Laura nurse yang akan mengantarkan kami ke lobi bawah. Pagi itu Akhirnya kami pulang ke rumah. Meskipun nego suamiku tidak diterima untuk menambah hari di rumah sakit. “Jam 12-15 ayah ada ujian, biar bunda di rumah sakit dulu agar ada yang pantau” begitu harapan suamiku semula. Siang itu kraamzorg datang ke rumahku. Namanya Anita. “Sepatunya boleh dibuka di luar?” Aku menyambut Anita dengan kondisi rumah berantakan. Memang sudah tradisi orang Belanda memakai sepatu ke dalam rumah. Namun bagiku tidak biasa, sedikit nego dan menjelaskannya kepada Anita. Untungnya baginya tidak masalah. Beliau juga menghargai privasi kami. Anita menyodorkan beberapa…

  • Our Story

    Khalayan Sebungkus Nasi Padang di Catharina Hospital

    “What do you want to eat? You can choose any menu” Tanya petugas gizi rumah sakit. Perutku keroncongan. “Rice!!” Jawabku spontan. Senyum getir petugas mengecewakanku. “Oh no, you can choose bread, cereals, meat, fruit or fish” jawabnya. Sebuah apel, cereal, susu dan roti yang disuguhkan nutrisionis sebagai sarapan pagi tidak mengenyangkan perutku. “Aku ingin makan nasi” gerutu hatiku. Sudah terbayang gerobak soto dan nasi uduk di pinggiran rumah sakit. Ayam gulai dan sambal ijo di restoran minang. Semua sungguh hanya khayalanku semata. Siang itu, ikan hangat dan roti cukup mengenyangkan perutku daripada segelas susu & cereal lagi. Petugas sibuk memasuki ruanganku. Ucapan selamat atas kelahiran si kecil tak henti menggema.…

  • Our Story

    Cerita Persalinan di Penghujung Exam Week

    1 Februari 2017 Handuk, piyama, pakaian baby, kaos kaki, diapers, dan sendal memadati koper coklatku. Sebuah carseat merah dan kamera siap dibawa. Aku memasukkan 2 centong nasi dan nugget ayam buatanku pada lunch box hijau. Ponsel genggamku bergetar, azan zuhur berkumandang. Aku ingin beristirahat sejenak, melepas lelah perjalanan dari rumah sakit. Sulungku sibuk memilih mainan dari box birunya. Aku berbaring di kasur ditemani kontraksi yang semakin sering. Suami terus mengobservasi dan sesekali kembali mengerjakan tugasnya. Malam semakin sunyi. Pohon-pohon gundul tumbuh bagai tak bernyawa. Dingin semakin pekat. Musim dingin membuat malam lebih panjang. Aku perlahan mengisi perut yang tidak lapar, sebagai cadangan energi bagiku. Kala kontraksi datang aku banyak terdiam…

  • Our Story

    Sepenggal Harapan di Lantai 11 Catharina Ziekenhuis

    Sulungku sudah 1 minggu tidak sekolah. Malam hari suhu badannya tinggi. Termometer digitalku tak bergerak turun, selalu menunjukkan angka 39 derajat celcius. Sirup stroberi penurun panas hanya sesekali terminum, itupun setelah beberapa kali aku menegonya. Entah kenapa dari dulu sulungku susah sekali minum obat. Matahari menerangi kegelapan, seketika suhu tubuhnya turun. Namun malam datang demampun kembali datang. Siklus yang kami alami seminggu ini. Virus winter yang menggorogoti sulungku. Sulungku hampir setiap jam terbangun dan gelisah. Akupun menanggung beban semakin berat kehamilan yang hampir serusia 37 minggu. Rasanya tak ada lagi tidur nyenyak semenjak 1 bulan terakhir. Suamiku tiada malam yang terlewati tanpa paper dan rumus-rumusnya. Minggu ini adalah hari-hari terberatnya.…

  • Our Story

    Kisah 6 jam Terperangkap di Ladang Tulip

    “Siap kan mau sepedaan lagi?” Lontar suamiku sambil mengecek sebuah website rental sepeda. Tulip, orchid, dan rose terbayang-bayang di pelupuk mataku bersepeda menikmati bunga-bunga nan cantik. Belahan bumi utara mulai semarak dengan dedauan. Bunga-bunga kuncup mulai bermunculan. Merah merona tulip diburu para pencintanya. Matahari lebih lama menampakkan diri. Musim semi adalah musim yang paling aku nantikan. Nasi ayam kecap berbungkus aluminium foil, aneka chips, roti dan biskuit memenuhi backpackku. Tiga lembar tiket Nederlandse Spoorwegen (NS), ID card, dan Ov chipkaart tersusun rapi di dompetku. Kereta berlogo biru membawa kami ke stasiun Leiden. Pagi itu stasiun ramai dipadati pengunjung. Aku mencari-cari bus khusus berwarna hijau. Antrian mengular panjang. Petugas satu persatu…

  • Our Story

    Sebongkah Rindu pada Ukhuwah

    Tiada terasa lebih surga bagi dua hati yang saling mencinta yang semisal menikah. Maka di lapis-lapis keberkahan rumah tangga menumbuhkan putra-putri berbakti yang mengenal Rabbnya, mentauhidkan Ilahnya, memesrai kebersamaan dengan-Nya, menikmati ketaatan pada-Nya, bersumsumkan akhlaq mulia dan bersendikan adab jelita.” Salim A. Fillah. Pagi itu daun daun mulai menampakkan tunasnya. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Merah, kuning, ungu dan biru. Rupanya pohon yang membeku di musim dingin kini kembali bernyawa. Musim semi nan cantik telah datang. Aku mengecek ponsel genggamku, membuka 9292 aplikasi transportasi andalanku. “Eindhoven-Rotterdam, pukul 10.10 di peron 5” aku mengabarkan pada suami. Selimut, matras, perbekalan, dan mainan memenuhi tasku. Angin berhembus di koridor peron, pertanda sebuah kereta datang.…

  • Our Story

    Hujan Kebaikan di Tanah Rantau

    “Crib, botol penghangat bayi, changing mat, baby bath up, hoeslakentjes, romper, molton onderlakens, carseat, handuk, dan pakaian size 50-56 cm…Wah masih banyak yang belum” aku mengecek daftar perlengkapan lahir si kecil. Aku pikir beberapa pakaian bayi yang aku boyong dari tanah air bisa terpakai, rupanya ukurannya terlalu besar. Dua lembar daftar perlengkapan persalinan dari bidan membuatku bingung. Hampir semua istilah Belanda yang digunakan aku tidak mengerti. Aku meminta bantuan mesin pencari google. “Yah kita mau cari kemana perlengkapan bayi sebanyak ini dan harganya lumayan mahal ” aku mengecek sebuah website toko. Kami baru 1 bulan menginjakkan kaki di negeri van oranje ini. Sedangkan 3 bulan lagi perkiraan persalinanku akan tiba.…

  • Our Story

    Pejuang Terapi Kepala Peyang

    “Kalian sebaiknya membawa Faiha ke kinderfysiotherapie” diagnosa sang dokter saat kami mengunjungi posyandu. Aku heran dan terkaget putri kami Faiha terdiagnosa sindrom kepala peyang. “Masa sih kepala peyang aja harus diterapi?” Aku masih terheran-heran meninggalkan langkah pintu posyandu. Kami tidak begitu mengindahkan anjuran dokter. Tidak begitu penting bagiku, “toh di Indonesia ga ada diterapi segala” gumam hatiku. Selang 1 bulan kami kembali berkunjung ke posyandu untuk memenuhi pengecekan tumbuh kembang si kecil. Dokter kembali menyarankan kami kembali untuk membuat janji pada fisioterapi. Akupun tidak setuju begitu saja. “Apa urgensinya putriku harus dibawa ke fisioterapi? Kami bertanya kepada perempuan berambut cepak itu. Berkunjung ke fisioterapi bagiku artinya ada sesuatu yang tidak…